Jelajah Malaysia: Uniknya Arsitektur Gaya Moorish di Masjid Jamek Sultan Abdul Samad dan Mengagumi Layanan Kesehatan Malaysia


Indahnya Masjid Jamek Sultan Abdul Samad (dok. pribadi)
Ingatan ini melayang ke bulan Juli 2017 ketika pertama kalinya paspor ini saya gunakan. Cap imigrasi dari Bandara Kuala Lumpur menjadi penanda dalam sejarah traveling pertama saya ke negeri tetangga, Malaysia. Akhirnya kesampaian juga, batin saya.

Kuala Lumpur menjadi destinasi utama segala umat, sebuah kota metropolitan yang menarik hati. Layaknya kota sibuk seperti Jakarta, Kuala Lumpur menawarkan berbagai destinasi wisata yang unik dan menyenangkan. Jiwa-jiwa berpetualang saya ikut terpanggil ketika diberikan kesempatan untuk mengunjungi Negeri Jiran. Sebuah kesempatan yang sangat baik!

Saya mendapatkan jatah selama 3 hari untuk menjelajah Malaysia. Maklum, traveling kali ini boleh dibilang sambil menyelam minum air. Agenda utamanya adalah berpartisipasi dalam kegiatan konferensi ilmiah di salah satu Universitas Malaysia. Seusai acara konferensi, kami pun merancang agenda jalan-jalan dadakan. Lokasi universitas yang sangat strategis di tengah pusat kota membuat saya kebingungan mau mulai menjelajah dari mana dulu ya?

Berbekal jawaban dari mesin pencarian digital, saya mengunjungi beberapa destinasi wisata pusat kota Kuala Lumpur contohnya Petronas Tower, Central Market, Bukit Bintang dan Masjid Jamek Sultan Abdul Samad. Salah satu destinasi favorit saya adalah Masjid Jamek.

Rute dari penginapan ke Masjid Jamek
Selama tinggal di Malaysia, saya menginap di Hotel Vivatel Kuala Lumpur. Saya senang sekali karena lokasi penginapan yang strategis sangat dekat dengan LRT Ampang Line nomor 3. Hanya berjalan kaki 750 meter dari penginapan, saya sampai di stasiun LRT Miharja. 


                                                Token Rapid KL untuk naik LRT (dok. pribadi)

Waktu itu saya masih norak, karena di Indonesia sendiri belum ada MRT dan LRT. Perjalanan pertama naik LRT ini sungguh membuat saya kagum akan kecanggihan system transportasi di Malaysia. Dengan menggunakan mesin otomatis, saya membeli token untuk naik LRT. Seingat saya waktu itu ongkos LRT seharga RM 2.00 dari Miharja ke Masjid Jamek dan perjalanannya sungguh singkat hanya sekitar 10 menit dengan melewati stasiun Chan Sow Lin, Pudu, Hang Tuah, Plaza Rakyat dan Merdeka. LRT nya nyaman dan juga tepat waktu.

Menjelajah Masjid Jamek Sultan Abdul Samad

Pelataran Masjid Jamek Sultan Abdul Samad (dok. pribadi)

Ketika turun di Stasiun Masjid Jamek, hanya perlu jalan kaki sedikit keluar dari stasiun LRT sekitar 39 meter. Saya merasakan pemandangan yang berbeda. Sungguh, saya merasa kala itu seperti tidak berada di Malaysia. Saya merasakan aura timur tengah yang kuat. Bahkan Ketika melihat dekorasi di pelataran bangunan Masjid Jamek, saya merasa seolah ada di Masjid Nabawi, Madinah.

Desain dan arsitektur bangunan Masjid Jamek Sultan Abdul Samad ini membuat saya terpana, terlebih siang itu sedang ramai oleh kaum adam yang akan melaksanakan ibadah sholat Jumat.
Masjid Jamek merupakan salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Masjid yang menjadi ikon kota kebudayaan Islam di Malaysia ini diresmikan pada tahun 1909. Masjid ini didesain oleh Arthur Bennison Hubback dengan arsitektur bergaya Moor. Bagian Masjid memiliki banyak gerbang melengkung yang menjadi ciri khas arsitektur Moorish.

Konon, Masjid Jamek dibangun oleh pedagang-pedagang Islam yang berasal dari India di persimpangan Sungai Klang dan Sungai Gombak pada masa penjajahan bangsa Inggris. Nama Jamek sendiri berasal dari Bahasa arab “Jamak”, dan Sultan Abdul Samad merupakan Sultan Selangor ke-4, karena posisinya di negara bagian Selangor.

Belanja murah di pusat perbelanjaan oleh-oleh dekat Masjid Jamek Sultan Abdul Samad
Selfie dulu ah di depan Central Market (dok. pri)

Travelling tak lengkap rasanya jika tak beli oleh-oleh. Berjarak sekitar kurang lebih 500 meter dari Masjid Jamek, saya menemukan Central Market. Pusat perbelanjaan ini sudah dibangun sejak tahun 1888 loh! Sebagai salah satu sentra niaga terbesar, kita bisa menemukan banyak hal unik dan menarik di sini. Mulai dari pernak-pernik gantungan kunci, magnet kulkas, cokelat,  tas kain, kaus berbagai ukuran dan motif, kerajinan tangan dan tentunya makanan khas Malaysia.

Harga barang yang ditawarkan pun cukup terjangkau di kantong, kita pun tak perlu khawatir jika kekurangan uang cash karena ada beberapa money changer di sana. Banyaknya barang yang “unch” membuat saya ingin membeli semuanya. Namun apa daya harus berhitung dengan cermat demi kelangsungan hidup selama di Malaysia.

Menikmati Fasilitas Kesehatan Pusat Kota Kuala Lumpur Malaysia

Selain berkunjung ke Masjid Jamek, rekan saya rupanya sudah membuat janji temu dengan rekan dokternya di salah satu Rumah Sakit yang berjarak hanya 14 menit dari Masjid. Tung Shin Hospital telah diinisiasi sejak tahun 1881 sebagai pusat pengobatan tradisional dengan nama Pooi Shin Thong dan pada tahun 1894 akhirnya berganti nama Tung Shin Hospital.

Masuk ke Tung Shin Hospital membuat saya kagum akan sistem pelayanan kesehatan di Malaysia. Saya teringat beberapa saudara saya memutuskan untuk melakukan pengobatan di Rumah Sakit Malaysia. Mereka bercerita bahwa pelayanannya sungguh professional serta dokter dan tenaga medisnya berkualitas.

Alur pelayanan MHTC (sumber: https://www.mhtc.org.my/discover-malaysia-healthcare/)

Berbicara soal pelayanan kesehatan, Malaysia memiliki program Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) (https://www.mhtc.org.my) yang diinisiasi oleh kementerian Kesehatan. Dengan mengedepankan kemudahan aksebilitas, biaya terapi yang cukup terjangkau, adanya global halal hub, kemudahan komunikasi, tenaga medis berpengalaman dan ahli di bidangnya, fasilitas kesehatan yang telah terakreditasi internasional, serta telah diatur dalam regulasi pemerintah, MHTC merupakan salah satu program yang sangat menarik bagi para turis untuk berobat sambil menikmati destinasi wisata Malaysia.

Sebanyak 69 rumah sakit telah terintegrasi dalam MHTC memudahkan bagi para turis yang akan merencanakan pengobatannya di Malaysia. Sistem ini juga didukung oleh adanya layanan Medical eVisa yang memberikan kenyamanan bagi para pendatang untuk merencanakan pengobatan dan sekaligus jalan-jalan selama berada di Malaysia.
Malaysia Healthcare Lounge (sumber: https://www.mhtc.org.my/discover-mhtc/malaysia-healthcare-concierge-lounge/)

Selain itu, MHTC juga memiliki Malaysia Healthcare Concierge and Lounge yang bisa ditemui di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) dan Penang International Airport. Malaysia  Healthcare Travel Council (MHTC) berkantor pusat di Kuala  Lumpur, Malaysia dan memiliki perwakilan di beberapa  negara seperti Indonesia, China, Myanmar, Vietnam. Informasi selengkapnya bisa dilihat pada media sosial Malaysia Healthcare (IG: @medtourismmy.id) dan website: https://medicaltourismmalaysia.id/.


Comments

  1. Malaysia keren sih. Diakui, fasilitas kesehatan mereka emang udah bagus dibanding kita. Wajar kalau banyak orang Indonesia yang berobat ke sana. Mudah-mudahan menginspirasi Indonesia ya ka untuk terus meningkatkan fasilitas kesehatan di tanah air.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener banget ka. Fasilitas dan pelayanan kesehatan Malaysia sudah mumpuni dan berkualitas.

      Delete

Post a comment